»
S
I
D
E
B
A
R
«
Cooperative Learning
Nov 25th, 2011 by zamrey

A. Pengertian Cooperative Learning

Cooperative learning  merupakan strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda kedalam kelompok-kelompok kecil (Saptono, 2003:32). Kepada siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu yang lebih lemah, dan sebagainya.
Agar terlaksana dengan baik strategi ini dilengkapi dengan LKS yang berisi tugas atau pertanyaan yang harus dikerjakan siswa. Selama bekerja dalam kelompok, setiap anggota kelompok berkesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dan memberikan respon terhadap pendapat temannya. Setelah menyelesaikan tugas kelompok, masing-masing menyajikan hasil pekerjaannya didepan kelas untuk didiskusikan dengan seluruh siswa.

B. Unsur dan Ciri Cooperative Learning

Menurut Lundgren (Sukarmin, 2002:2), Unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan pada diri siswa agar  cooperative learning lebih efektif adalah sebagai berikut :

a.  Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama” b.  Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.

c.  Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama. d.  Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara anggota kelompok.

e.  Para siswa akan diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.

f.  Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

g.  Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Read the rest of this entry »

Sistem Produksi
Nov 23rd, 2011 by zamrey

INTRODUKSI

· Perubahan wajah manfacturing secara significant telah terjadi pada TEKNOLOGI manufctur dan MANAJEMEN manufactur

· Pada Teknologi manufactur lahir :

- CNC (Computerized Numerical Control)

- FMS (Flexible Manufacturing System)

· Pada Manajemen manufactruing lahir MPC (Manufacturing Planning & Control) yang terdiri atas

- MRP (Material Requirement Planning)

- MRP Closed Loop

- MRP II (Manufacturing Resource Planning)

- OPT (Optimized Porduction Technology)

- JIT (Just In Time)

· Perubahan tidak saja terjadi pada formulasi, tapi juga pada integrasi horizontal/vertical

· Sukses MPC tergantung pada :

Read the rest of this entry »

Material Komposit
Nov 23rd, 2011 by zamrey

Komposit merupakan  material  teknik  yang  tersusun  atas  dua  atau  lebih bahan yang memiliki fasa yang berbeda menjadi suatu material baru dengan sifat yang  berbeda  dan  lebih  baik  dari  keduanya. Definisi  lain menyatakan  bahwa

komposit  adalah  perpaduan  dari  bahan  yang  dipilih  berdasarkan  sifat  masing- masing bahan penyusun untuk menghasilkan material baru dengan sifat yang unik dibandingkan sifat material dasar sebelum dicampur dan terjadi ikatan permukaan  masing-masing material penyusun. Berdasarkan definisi tersebut maka kondisi ikatan  permukaan  sangat  berpengaruh  terhadap  kekuatan  komposit.  Persyaratan dasar kekuatan komposit  terletak pada kekuatan antar muka matrik dan penguat.

Read the rest of this entry »

Pengenalan Teknik Pendingin dan Aplikasinya.
Nov 23rd, 2011 by zamrey
—Sejarah singkat tentang bagaimana orang membuat “dingin”.

  • Bangsa China kuno menggunakan es (salju) untuk melezatkan minuman. Mereka memotong es saat musin dingin dan menyimpannya dengan membungkus dalam tumpukan jerami dan sekam lalu menjualnya saat musim panas.
  • Bangsa Mesir kuno menemukan cara mendinginkan air dengan cara mengisi gentong2 air lalu meletakkannya di atas atap rumah saat malam hari. Udara dingin akan mendinginkan air tersebut.

—Asal – usul percobaan pengawetan bahan makanan .

  • Francis Bacon (1626), mencoba mengawetkan ayam dengan membungkusnya denga salju.
  • Anton van leeuwenhoek (1683), dengan mikroskop-nya, ia dapat melihat bahwa dalam setetes air jernih terdapat jutaan organisme hidup (mikroba). Kemudian diketahui mikroba itu dapat berkembangbiak dengan cepat pada suhu hangat dan lembab dan menjadi penyebab terjadinya pembusukkan makanan tetapi tidak dapat berkembangbiak pada suhu dingin (50 F atau kurang), dengan penemuan inilah penelitian pengawetan makanan dimulai.

—
Percobaan membuat mesin es .
—Jacob Perkins (1834) ilmuwan Amerika, adalah salah satu pemegang hak patent untuk mesin es. Mesin-nya berhasil digunakan di pabrik pengalengan daging. 50 tahun kemudian pabrik mesin es dibuat di Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman.

Read the rest of this entry »

Tujuan dan Jenis Perlakuan Panas
Nov 21st, 2011 by zamrey

Perlunya perlakuan panas dilakukan adalah untuk mengurangi perubahan bentuk pada saat dikerjakan atau setelah dikerjakan atau hasil suatu konstruksi, merubah sifat-sifat bahan dan menghilangkan tegangan-tegangan sisa.

Sebelum benda dikerjakan dilakukan perlakuan panas maka disebut perlakuan panas awal sedangkan setelah benda dikerjakan disebut perlakuan panas akhir.
Beberapa jenis perlakuan panas adalah:


• Perlakuan panas awal dan sesudah pengerjaan
• Menghilangkan tegangan sisa
• Penormalan (Normalizing)
• Pelunakan (Annealing)
• Pengerasan (Hardening)
• Temper (Temperring)

1. Perlakuan Panas Awal (Preheating)


Perlakuan panas awal adalah pemanasan yang dilakukan sebelum benda kerja tersebut dikerjakan lebih lanjut, misalnya sebelum dilakukan pengelasan. Temperatur pemanasan awal adalah antara 30°C - 400°C ( lihat Diagram Perlakuan Panas).
Hal ini perlu dilakukan, karena pada waktu pengelasan akan terjadi panas pada daerah pengelasan. Panas yang tinggi akan terpusat pada daerah pencairan. Dengan bertambah jauh jaraknya busur akan berkurang panas yang terjadi.

Read the rest of this entry »

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa